Kali ini kita akan mampir ke sebuah kafe yang berada di jalan Sei Batanghari nomor 160 di Kota Medan, tidak jauh dari perempatan jalan Sunggal - Sei batanghari. Kafe ini menyediakan Specialty coffee dari single origin Aceh Gayo.
Tampilkan postingan dengan label kawan minum kopi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kawan minum kopi. Tampilkan semua postingan
Senin, 05 Maret 2018
Sabtu, 03 Maret 2018
Nusantara Coffee, Kesederhanaan Kopi Spesialti di Kota Medan
Semakin berkembangnya usaha kopi
di tanah deli ini membuat semakin banyak coffee shop dan kedai-kedai kopi.
Kopi spesialti makin memanjakan para penikmat kopi, apalagi kesadaran para
petani kopi akan berharganya kopi spesialti semakin meningkat. Para petani semakin berpacu untuk menghasilkan kopi yang
memiliki kualitas dan rasa yang premium, bahasa pasarnya adalah kopi dengan grade
1. Petani semakin tertarik untuk serius menggeluti usaha kopi yang semakin
banyak penikmatnya.
Label:
coffee,
coffee shop,
Gayo,
kawan minum kopi,
kedai kopi,
Kopi Asli Indonesia,
Lintong,
mandhailing
Rabu, 14 Februari 2018
Mix Vegetable Salad With Peanut Sauce, Gado-gado Yang Keminggris
Siapa yang tak mengenal Gado-gado?
Makanan tradisonal yang melegenda ini mempunyai begitu banyak penggemar setia. Berbagai
kalangan menyukai makanan berbahan utama lontong dan campuran sayur yang
disiram bumbu kacang. Rasa yang khas muncul dari aroma kacang goreng yang
dihaluskan sebagai bumbu siramannya. Makanan tradisional ini selain dijual di
warung makanan, juga telah merambah ke menu utama di restoran dan hotel bintang
5.
Selain menyandang nama gado-gado, makanan ini juga
ada yang memberi nama dengan versi bahasa Inggris agar mendongkrak kasta dan
penjualan makanan ini, Mix VegetableSalad With Peanut Sauce. Biasanya
nama menu ini digunakan di cafe-cafe yang terletak di pusat-pusat perbelanjaan.
Apakah dengan penggantian nama tersebut dapat membuat peningkatan penjualan
menu tersebut?. Jawabannya adalah Ya, jika penggantian nama tersebut juga
diiringi dengan penyegaran tampilan dan pemberian varian rasa yang berbeda dari
rasa originalnya.
Keminggris, istilah bahasa Jawa ini
mempunyai makna kelakuan orang yang sok atau cenderung menyukai dan menggunakan
budaya inggris, minimal yang “sok-sokan” menggunakan bahasa Inggris, padahal
vocabulary dan grammar-nya masih level “poor”. Bagi orang yang kemingris,
mereka merasa derajat dan kastanya akan meningkat karena sifat keminggris tersebut.
Bahasa Inggris telah dibawa dan disebarkan sejak berabad yang lampau oleh
kolonial Inggris sehingga menyebar ke
seluruh penjuru dunia dan menjadi bahasa pengantar dalam dunia bisnis maupun
politik pada masa sekarang. Tak ayal lagi, bahasa-bahasa perdagangan juga
terkena pengaruh oleh bahasa Inggris. Apalagi kita sedang menyambut era MEA,
perdagangan bebas negara-negara Asean ini akan membawa mimpi buruk bagi
pengusaha yang belum menguasai bahasa Inggris.
MEA memaksa negara kita untuk membuka
gerbang perdagangan selebar-lebarnya bagi pengusaha-pengusaha dari negara Asean
lainnya. Para pebisnis asing mencoba untuk ekspansi bisnisnya ke negara kita,
tentunya mereka pasti akan memakai bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar
mereka.
Semua bidang perdagangan akan terkena
imbas MEA, tak terkecuali bidang makanan. Para pebisnis makanan sejak tahun
2014 telah mencoba meramu cara untuk melindungi
dan mempertahankan bisnis makanan tradisional dari efek-efek adanya MEA, mereka
memulai riset dengan cara mencoba mempertahankan cita rasa makanan Indonesia
dengan cara harmonisasi rasa masakan di sebuah warung kecil di pasar Santa.
Mereka mencoba menampilkan masakan Indonesia yang diimplementasikan dengan
appetizer, soup, main course ikan,daging dan ayam yang diplatting sesuai
standart Internasional. Cara tersebut harus dilakukan untuk menyediakan menu
makanan bagi pebisnis yang datang ke Indonesia agar mereka tidak hanya menyantap
hidangan internasional saja.
Apabila cara-cara tersebut berhasil,
maka jutaan pebisnis yang meramaikan pasar bebas Asean di Indonesia akan bisa
dan suka mengkonsumsi makanan lokal Indonesia. Mungkin saja ada menu Rica-rica
manado yang diplatting dengan tachos, rujak cingur yang bahan cingurnya
disubstitusi dengan daging tuna atau bahkan mungkin papeda bumbu italia. Who
knows...?. Maka masakan tradisional kita akan tetap terjaga kelestarian dan
kita akan mempuyai berbagai variasi cara penyajian masakan tradisional kita,
tidak melulu gado-gado disiram dengan saus kacang, tapi variasi saus akan
semakin membuat gado-gado siap untuk bertahan di era perdagangan Asean.
Jayalah selalu kuliner Indonesia,
hidup ngunyah...!
Penulis : Aliyul Wafa
(Aktifis Lembaga Perngunyahan Indonesia dan pecinta Kopi Asli Indonesia)
Selasa, 13 Februari 2018
Keabadian Honda C70 dan Rujak Cingur
Berjejer puluhan sepeda motor di
kawasan Lapangan Merdeka Kota Medan, berbagai komunitas motor rider
membentangkan spanduk bertuliskan nama komunitas motor mereka. Tidak
ketinggalan komunitas sepeda motor berkapasitas mesin 70 cc keluaran pabrikan
asal jepang, Honda C70. Meskipun sepeda motor ini sudah masuk kategori sepeda
motor tua, namun peminatnya masih saja banyak, anehnya lagi para peminatnya
adalah kalangan muda yang lahir jauh setelah tahun rilis sepeda motor ini.
Para peminat masih saja banyak yang
memburu sepeda motr ini untuk dihidupkan kembali, mereka mencari sepeda motor
yang masih original. Semakin banyak part yang masih dalam kondisi sama dengan
bawaan pabrik, maka semakin tinggi nilai jualnya. Honda C70 sendiri masuk ke
Indonesia pertama kali pada tahun 1961 dengan seri C100 dan C102 yang kemudian
disusul oleh seri C50, C90 dan C70 pada tahun berikutnya.
Desain yang unik, desain yang bisa
dikatakan tak lekang oleh waktu, dengan warna dasar merah dan hijau dipadu
dengan sayap putihnya membuat pemadangan kontras yang sedap dipandang mata.
Oleh karena itulah penggemar sepeda motor ini masih tetap saja banyak.
Tidak hanya di kota Medan, di
Surabaya juga bertebaran penggemar sepeda motr ini. Sering kita melihat
komunitas sepeda motor di kota ini melakukan touring ke daerah gunung Bromo
maupun tempat wisata lain di Jawa Timur. Mereka juga rutin mengadakan kopi
darat di berbagai sudut kota Surabaya. Sementara itu, di sudut lain kota
Surabaya bertebaran peminat dan pemburu makanan tradisional dan khas Kota
Pahlawan. Rujak Cingur, makanan gurih pedas ini masih tetap diminati ditengah
gempuran makanan siap saji.
Makanan khas berbahan lontong
dilengkapi sayur kangkung yang diberi irisan tempe, tahu dan potongan hidung
sapi yang kemudian di siram dengan bumbu petis ini punya penggemar fanatik
tersendiri. Rasa yang khas bersumber dari petis ikan dan sensasi kenyal
potongan hidung sapi ini membuat penggemarnya tidak bisa menahan selera
makannya. Apalagi harga yang dipatok juga tidak mahal, paling mahal mungkin
hanya Rp. 20.000 lengkap dengan minuman teh manis dingin.
Makanan yang
dipercayai merupakan hasil ciptaan masyarakat Suku Madura yang berdomisili di
Surabaya ini sekarang tidak hanya dijual di Surabaya atau di kota sekitarnya
saja, makanan ini sudah merambah di seantero Indonesia Raya. Tidak hanya dijual
di depot makanan atau warung saja, melainkan sudah menjadi salah satu menu
restoran bintang lima.
Honda Super CubC70 dan rujak cingur ini merupakan dua contoh produk yang dapat dikatakan
sebagai produk sepanjang masa, tak lekang dimakan jaman, tak terbunuh oleh
waktu. Meskipun bertaburan motor-motor besar dan canggih, namun tetap saja C70
masih bertahan keberadaannya di masyarakat meskipun pabrikannya enggan
memproduksinya lagi. Rujak cingur juga demikian, meskipun Mc Donald dan KFC
berusaha merangsek menguasai dunia kuliner Indonesia, bendera rujak cingur
tetap akan berkibar.
Keistimewaan
Honda C70 tetap terawat hingga kini dan mungkin masih tetap akan terawat hingga
berpuluh tahun kemudian. Bersyukurlah dunia pernah melahirkan desainer yang
telah berhasil melahirkan desain produk dari sepeda motor ini, sehingga kita
masih bisa menikmati keistimewaan desain sepeda motor tersebut. Itulah perlunya
intuitif visioner dari seorang desainer, mereka mampu mendesain sesuatu nilai
yang bisa tahan lama, bukan hanya nilai yang cocok pada satu masa saja.
Selain faktor
kelihaian desainer, keabadian suatu produk juga disebabkan oleh banyak hal,
satu diantara banyak hal adalah nilai historis dari produk tersebut, contoh produk
yang keabadiannya disebabkan oleh nilai sejarah adalah Vespa Congo. Scooter
keluaran Italia yang diproduksi pada tahun 1958 hingga 1963 ini banyak diminati
oleh scooteris Indonesia, dikarenakan tampilah gagah dan nilai kebanggaannya.
Kenapa dikatakan terdapat nilai kebanggaan?, karena pada era presiden Soekarno,
para prajurit angkatan bersenjata Republik Indonesia yang telah selesai
bertugas dalam misi perdamaian di daerah konflik negara Congo, dihadiahi oleh
pemerintah berupa scooter ini. Oleh karena itu maka scooter ini lebih dikenal
sebagai Vespa Congo.
Jadi, sebagai
inovator dan pebisnins harus bisa menggunakan dan memanfaatkan momen-momen yang
terjadi di masyarakat untuk mengatrol nilai eksternal dari suatu produk. Momen
yang sedang terjadi di masyarakat perlu ditelaah untuk dijadikan penanda bagi
munculnya produk baru, sehingga konsumen mudah mengingat produk tersebut
meskipun hanya jika disebutkan momennya.
Semoga
pebisnis-pebisnis Indonesia dapat terus mengembangkan intuisi dan khayalan
untuk dapat mengembangkan nilai produk, bukan hanya melalui kualitas produk
saja, melainkan juga melalui kekuatan eksternal yang menyertainya. Semoga maju
terus Indonesia Raya.
Penulis : Aliyul Wafa (penikmat Rujak Cingur)
Minggu, 11 Februari 2018
Nugget Tahu dan Pisang Keju, Masyarakat kuliner Inginkan Start Up.
Nugget Tahu dan Pisang
Keju, Masyarakat kuliner Inginkan Start Up.
Salah satu ciri usaha rintisan adalah
menjual barang atau menyediakan layanan jasa yang telah diperbaiki level
mutunya, yang semula biasa menjadi luar biasa. Contohnya adalah ojek, dahulu
ojek pengkolan harus menunggu penumpang di ujung gang-gang atau di gerbang
perumahan, maka Nadiem Makariem dan kawan-kawan mencoba untuk memperbaiki level
pelayanan ojek tersebut dengan memulai usaha rintisan yang sekarang telah menjadi
raksasa bernama Go-Jek, sehingga para tukang ojek yang menjadi “mitra” Go-Jek
tidak perlu lagi menunggu orderan penumpang di gang atau gerbang perumahan,
cukup santai menunggu di rumah atau warkop, orderan pun bisa datang melalui
genggaman gawai android mereka.
Gejala “Start Up-isasi” yang syarat
usaha rintisannya harus berbau teknologi digital, mau tidak mau kini menular ke
bisnis makanan. Makanan yang biasa-biasa saja, makanan udik, makanan tradisional,
makanan yang biasa dijual keliling kampung, kini bersolek dan mengalami
perubahan dan perbaikan mutu beberapa tingkat. Sebut saja tahu goreng dan
pisang goreng. Biasanya tahu dan pisang goreng ini dijual Rp. 600 – 1000 per
potongnya. Setelah mengalami perbaikan para “inovator” kuliner, maka harganya
melambung hingga Rp. 5.000 per potongnya bahkan ada yang melebihi harga
tersebut.
Nugget tahu, yang bahan dasarnya
hanyalah tahu yang dihancurkan dan dicampur kuning telur, bumbu-bumbu, bawang
kemudian dikukus dan dibentuk seperti potongan nugget yang dilumuri tepung
panir dan kemudian masuk ke penggorengan, harganya bisa menjadi Rp. 10.000 per
kemasan isi 3 potong dilengkapi dengan saus sachet. Penjualannya juga tidak
lagi keliling kampung atau di pinggir jalan, tetapi sudah melalui metode
delivery order dan fasilitas Go-Food atau Grab-Food.
Begitu juga dengan Piss’nJoe, varian
gorengan pisang ini sudah satu tahun yang lalu berkutat di bisnis gorengan
Pisang Keju. Potongan pisang yang dibalur dengan adonan tepung yang resepnya
masih dirahasiakan, kemudian digoreng dan diberi topping berbagai macam coklat,
keju, meses, susu dan glaze. Per porsi kemasan isi 8-10 potong dihargai mulai
Rp. 8.000 sampai Rp.15.000 tergantuung varian topping.
Masih banyak lagi varian kuliner
tradisional yang telah mengalami perbaikan mutu, baik dari segi rasa maupun
tampilan. Inovasi-inovasi ini muncul mengikuti trend merebaknya usaha rintisan
dunia digital. Akhirnya muncul satu pertanyaan, apakah gejala ini bisa
dinamakan sebagai Start Up Kuliner?. Apapun namanya, yang terpenting adalah
gejala ini bisa menjadi bukti bahwa yang mampu beradaptasi dan mengikuti trend
jaman pasti akan dapat bertahan, bahkan mampu menjadi pemenang.
Penulis : Aliyul Wafa (tukang makan)
Langganan:
Komentar (Atom)




